Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini kerusakan lingkungan sedang marak terjadi di negara Indonesia.
Sebagai informasi bahwa definisi dari kerusakan lingkungan ialah penurunan kualitas lingkungan hidup yang disebabkan oleh sejumlah peristiwa alam atau perbuatan buruk manusia, contoh dari kerusakan lingkungan ialah seperti menurunnya kualitas air, udara, tanah, punahnya flora dan fauna, dan kerusakan ekosistem alam.
Kerusakan lingkungan tidak boleh disepelekan, karena kerusakan lingkungan dapat berdampak negatif signifikan terhadap kehidupan manusia, yakni meningkatkan frekuensi bencana alam seperti tanah longsor, banjir, wabah penyakit, dan sosial-ekonomi.
Sebagai contoh nyata bahwa pada beberapa bulan yang lalu, saudara kita yang tinggal di daerah Sumatera Utara telah mengalami bencana banjir bandang dan tanah longsor yang hebat.
Banyak korban jiwa yang berjatuhan atas peristiwa tersebut, dengan rincian yakni 1.106 korban yang meninggal dunia, 276 korban hilang, dan 5.000 korban luka-luka, jadi jika di total secara keseluruhan, maka terdapat puluhan ribu penduduk di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat yang terkena dampak dari bencana banjir bandang dan tanah longsor tersebut.
Banyak pihak yang mengklaim bahwa bencana banjir bandang dan tanah l0ngsor yang terjadi di Sumatera disebabkan oleh kecerobohan atau ulah buruk dari manusia, yakni adanya aktivitas penebangan pohon secara ilegal di hutan Sumatera.
Aktivitas penebangan pohon ilegal tersebut dilakukan secara massal oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga menjadikan hutan gundul serta rusaknya ekosistem alami di hutan Sumatera.
Logikanya jika hutan menjadi gundul, maka tanah akan semakin lembek dan tidak kuat untuk menopang resapan air yang ada, sehingga saat musim penghujan tiba, maka tanah akan menjadi mudah longsor dan membawa bencana bagi pemukiman warga sekitar.
Isu tentang aktivitas ilegal penebangan pohon secara liar tersebut bukanlah kabar palsu, karena saat ini sudah banyak video yang beredar tentang banyaknya potongan pohon yang terbawa arus saat bencana banjir bandang datang.
Oleh karena adanya bencana tersebut, maka saat ini seluruh masyarakat Indonesia dapat berkaca dan belajar tentang pentingnya menjaga ekosistem alam, dan mempunyai kepedulian serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Bencana tersebut juga menjadi saksi bisu bahwa kita memang tidak boleh serakah dalam mengambil Sumber Daya Alam (SDA) saja, melainkan kita juga harus turut melindungi dan melestarikan alam. Kesimpulannya saat ini kita tidak boleh berfokus dalam mengambil dan memanfaatkan saja, melainkan kita juga harus turut menjaga dan melakukan reboisasi agar alam dapat terus hidup.
Baru-baru ini, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua mengumumkan bahwa pihaknya akan mendukung lima langkah strategi utama di Indonesia terkait menjaga ekosistem hutan di seluruh daerah Indonesia.
Kepala BBKSDA Papua Johny Santoso menjelaskan, lima langkah strategi tersebut dirangkum dalam program “Indonesia’s Fulo Net Sink 2030.
Johny Santoso mengaku bahwa program tersebut akan mendukung ekosistem hutan yang bersih dan berkelanjutan.
Lima langkah strategi yang akan diterapkan dalam program tersebut ialah meliputi pengolahan hutan lestari, peningkatan cadangan karbon, konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem gambut dan penegakan hukum dan penguatan kapasitas kelembagaan.
Saat ini program tentang Indonesia’s Fulo Net Sink 2030 masih dalam tahap pengembangan, dan saat ini pihak BBKSDA telah melakukan sejumlah seminar edukasi di daerah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Seminar edukasi tersebut juga akan disebarluaskan lagi di berbagai daerah Indonesia, khususnya bagi daerah yang mengalami krisis lingkungan.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga telah berkomitmen bahwa negara Indonesia harus menjadi negara yang bersih dan mempunyai ekosistem alam yang hidup, asri, dan berkelanjutan.
Berikut terdapat cuplikan video dari Kemenhut tentang Indonesia’s Fulo Net Sink 2030:
@kemenhut_ri Dampak perubahan iklim semakin nyata, mulai dari cuaca ekstrem hingga meningkatnya risiko bencana. Pemahaman dan kesadaran bersama menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. #FOLUNetSink2030 #Kemenhut
♬ original sound – Kementerian Kehutanan RI – Kementerian Kehutanan RI
